Kamis, 20 November 2008

Perpustakaan, Cita-cita yang Terbengkalai

Suatu hari pagi yang cerah telpon berdering tertulis "Marsudiana". Terbersit pikiran ada apa pagi-pagi dah telpon. "selamat pagi pak" ujarnya suara dari serpong membuka pembicaraan. Setelah habis berbasa basi ia kemudian menyodorkan sebuah ide untuk membuat perpustakaan dirumahnya.

"Emang mau ditaruh dimana?" kata saya penuh selidik, mengingat genong yang tinggal di ruko sudah cukup sempit. "Ya di ruko, dekat koridor depan" ujarnya meyakinkan. Ia memaparkan keinginannya melihat perkembangan anak-anak diusia belia sebaya dengan Diah dan Fori yang masih minim bacaan.

"Emang sudah banyak koleksimu?" tanya saya lagi. "Baru ada sekitar 20 buku berbagai judul," katanya kemudian. "Makanya aku telpon ngasih tau kalau ada buku-buku di rumah bawa aja kesini lumayan buat nambah-nambah," katanya menghimbau.

Ia sangat yakin koleksinya akan terus bertambah mengingat banyaknya ALB UPL MPA UNSOED yang dijakarta. "Kalau 1 orang nyumbang 5 buku, saya yakin akan terkumpul 200 buku," katanya meyakinkan.

Bahkan dia berharap saya disuruh nyumbang 1 unit komputer yang bekas, yang penting bisa nyala dan bisa dipakai anak-anak di lingkungan sekitar rumah genong untuk belajar teknologi lewat komputer.

Beberapa waktu kemudian saya berkesmpatan maen ke Serpong dan ternyata kegiatan perpustakaan sudah berjalan, banyak anak-anak berkumpul dirumah genong. "Sayang koleksinya belum nambah jadi mereka sudah mulai bosan," keluhnya.

Saya belum banyak berbuat bagi cita-cita sahabat saya yang sangat mulia, kendati penyakit yang diidapnya bukan penyakit yang ringan. Namun Genong selalu gelisah untuk terus berbuat yang terbaik bagi lingkungannya

Tidak ada komentar: