Ketika di akhir kegiatan penelitian Mustika Pratiwi "Ika Merdeka" di vegetasi Samyang Rangkah, G Slamet Budi "Buna" Mulyana punya ide untuk melakukan latihan jungle survival di ketinggian lebih dari 2.500 m dpl. Saya lupa tahun berapa tapi antara tahun 1991-1992.
Kontan aja acara ini menarik minat para anggota yang masih bau kencur termasuk didalamnya Genong. Tak ayal lagi pondok penelitian yang kita namakan Segung menjadi seperti perkampungan. Maklum lebih dari 15 anggota yang masih muda termasuk anggota muda ikut serta di dalamnya.
Malam hari kita selalu ngumpul di depan 2 tenda besar, sembari mendengarkan ceramah dari sang kakak yang ahli mountaineering, siapa lagi kalau bukan Buna. Karena malam sudah mulai larut dan mata sudah sulit dibuka, satu persatu penduduk suku segung masuk ke tenda dan masuk ke kantung tidur.
Namun waktu itu Genong nampaknya belum bisa memejamkan mata. Waktu saya coba temani sambil menyalakan lilin karena perapian sudah dimatikan. Namun tak berapa lama kantuk tak bisa ditahan kendati rokok dan kopi panas buatan genong sudah habis terminum. Maklum siangnya kita harus membantu Ika Merdeka untuk melakukan penelitian.
Sebelum tidur saya ingatkan Genong yang masih duduk menikmati malam untuk mematikan lilin. Sambil berbaring Genong nampaknya masih menikmati indahnya malam di lembah Segung. Selintas ketika saya masuk ke kantung tidur Genong berada di pintu tenda sembari berbaring sambil masih menghisap rokoknya dalam-dalam.
Tak lama kemudian saya sudah berlayar ke pulau kapuk bersama teman-teman lainnya nikmat sekali malam itu. Entah sudah berapa lama saya tertidur tiba-tiba saya bermimpi kalau perkampungan Segung menjadi terang benderang, sambil membayangkan ada listrik disitu.
Ternyata terang benderang itu bukan mimpi melainkan api yang tengah membesar dari matras dekat Genong yang tengah terlelap di dekatnya. Masih setengah sadar saya bangunkan anak-anak karena saya berada di ujuang sebrang tenda.
Gegerlah seisi perkampungan sambil bingung cari cara untuk memadamkan api yang sudah mulai menjilat pintu tenda. Saya lupa disebelahnya genong dengan kepanikan langsung menyambar nesting yang didekatnya dan disiramkan ke tenda yang mulai terbakar. Api yang menyambar tendapun mati. Lama kemudian kita baru tau ternyata yang didalam nesting bukanlah air melainkan sop yang sengaja dibuat untuk makan pagi, nah lo.
Namun sumber api yang berasal dari matras belum padam dan masih menjilat-jilat. Ditengah kepanikan tiba-tiba Genong bangun dan dengan kepercayaan diri yang tinggi api yang membakar matras ditepuk dengan menggunakan tangan kosong. Sekali tepuk apipun mati.
Kita yang mengenal Genong sosok yang sakti karena sering berkomunikasi dengan mahluk gaib menganggapnya tengah mengeluarkan ilmu saktinya kebal api. Namun tiba-tiba Genong meraung-raung kepanasan sambil memegangi tangannya.
Ternyata Genong bukan mengeluarkan jurus saktinya kebal api namun karena bangun dan belum 100 persen bangun melihat ada api praktis aja dengan tangan kosong ia tepuk api yang sudah membesar.
Alhasilnya sebagian jarinya melepuh terkena leleran matras yang mencair dan itu menjadi kenang-kenangan.
Minggu, 09 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
lumayan
Posting Komentar