Suatu hari pagi yang cerah telpon berdering tertulis "Marsudiana". Terbersit pikiran ada apa pagi-pagi dah telpon. "selamat pagi pak" ujarnya suara dari serpong membuka pembicaraan. Setelah habis berbasa basi ia kemudian menyodorkan sebuah ide untuk membuat perpustakaan dirumahnya.
"Emang mau ditaruh dimana?" kata saya penuh selidik, mengingat genong yang tinggal di ruko sudah cukup sempit. "Ya di ruko, dekat koridor depan" ujarnya meyakinkan. Ia memaparkan keinginannya melihat perkembangan anak-anak diusia belia sebaya dengan Diah dan Fori yang masih minim bacaan.
"Emang sudah banyak koleksimu?" tanya saya lagi. "Baru ada sekitar 20 buku berbagai judul," katanya kemudian. "Makanya aku telpon ngasih tau kalau ada buku-buku di rumah bawa aja kesini lumayan buat nambah-nambah," katanya menghimbau.
Ia sangat yakin koleksinya akan terus bertambah mengingat banyaknya ALB UPL MPA UNSOED yang dijakarta. "Kalau 1 orang nyumbang 5 buku, saya yakin akan terkumpul 200 buku," katanya meyakinkan.
Bahkan dia berharap saya disuruh nyumbang 1 unit komputer yang bekas, yang penting bisa nyala dan bisa dipakai anak-anak di lingkungan sekitar rumah genong untuk belajar teknologi lewat komputer.
Beberapa waktu kemudian saya berkesmpatan maen ke Serpong dan ternyata kegiatan perpustakaan sudah berjalan, banyak anak-anak berkumpul dirumah genong. "Sayang koleksinya belum nambah jadi mereka sudah mulai bosan," keluhnya.
Saya belum banyak berbuat bagi cita-cita sahabat saya yang sangat mulia, kendati penyakit yang diidapnya bukan penyakit yang ringan. Namun Genong selalu gelisah untuk terus berbuat yang terbaik bagi lingkungannya
Kamis, 20 November 2008
Rabu, 12 November 2008
Puisi dari Bang Bizier
Akhirnya,
kepadaMu jua kuserahkan
bulir-bulir peluh yang terakhir
setelah habis semua daya yang Kau perintahkan
setelah habis segala asa yang tersisa didunia
Akhirnya,
Raga ini kembali pada Mu
Karena segala berawal dariMu
Dan berakhir kepadaMu
Jangan menangis kawan,
Seperti telah kuserahkan semua yang kupunya,
Biar habis daya dan asa
Tapi airmataku,
Biar dia menguap,
dikedalaman mataku
seperti setiap saat begitu adanya
Namun kali
karena tiada ada penyerahanku tanpa upaya
kuserahkan,
asa yang penghabisan
karena tiada lagi yang
Abdul kadir Usman/Pelopor
kepadaMu jua kuserahkan
bulir-bulir peluh yang terakhir
setelah habis semua daya yang Kau perintahkan
setelah habis segala asa yang tersisa didunia
Akhirnya,
Raga ini kembali pada Mu
Karena segala berawal dariMu
Dan berakhir kepadaMu
Jangan menangis kawan,
Seperti telah kuserahkan semua yang kupunya,
Biar habis daya dan asa
Tapi airmataku,
Biar dia menguap,
dikedalaman mataku
seperti setiap saat begitu adanya
Namun kali
karena tiada ada penyerahanku tanpa upaya
kuserahkan,
asa yang penghabisan
karena tiada lagi yang
Abdul kadir Usman/Pelopor
Senin, 10 November 2008
Berani Pada Ular Takut Ma Ulat
Siapa tak kenal Genong, sedikit anak UPL yang bisa becanda dengan mahluk menakutkan yang bernama Ular. Kalau bangsa saya begitu melihat Ular dijamin pasti mengambil langkah seribu.
Sebaliknya genong. Ular baginya hanyalah sebuah permainan. Jangankan melihat ia bahkan sanggup mengendus keberadaan ular dari jarak 50 meter. Akan keahliannya ia pernah memaparkan, ketika semasa kecil ia sudah diperkenalkan dengan urusan ular. Temen-temen sedesanya hobinya menagkap ular dan menjualnya di kota.
Makanya ketika mahasiswa keahliannya menangkap ular benar-benar bisa menjadikannya salah satu instruktur survival yang handal. Bahkan mungkin hingga saat ini belum ada yang menyamai keahliannya menangkap ular.
Di setiap kegiatan kita selalu merayu genong untuk mencari ular untuk sekadar menambah lauk makanan menjadi lebih gurih. Dengan senang hati ia selalu berkata " arep sing berbisa apa siang ora" katanya sambil ngeloyor pergi.
Biasanya tak lama dia sudah menenteng minimal 1 ekor ular dan mengulitinya. Sedangkan yang lain terima bersih tinggal memasaknya.
Bahkan suatu waktu karena dia ingin menurunkan ilmu ularnya maka ia pelihara beberapa ular di sekretariat dan bahkan ular cobra. Untuk yang tidak berbisa biasanya malah ia lepas di sekre. Jadi sering terjadi teriakan kaget beberapa anggota UPL ketika mendapati ular sawah yang juga ngadem di sekre.
Namun sedikit orang yang tau bahwa Genong sangat penakut sama ulat, apa saja jenis ulatnya. Dan ketakutan pada ulat itu tidak maen-maen seperti kebanyakan orang yang takut sama ular ia akan ambil langkah seribu.
Suatu waktu saat ia menjabat sebagai Komandan Operasi pada sebuah Pendidikan Dasar, sebuah jabatan bergengsi saat itu. Ketika Long March saat Komandan Operasi lewat biasanya para siswa berdecak kagum dengan sosok pengendali operasi "ngerjain calong anggota".
Atas kegagahannya menjadi seorang DanOps timbullah keisengan saya melihatnya berjalan mendamping sisiwa. Kebetulan diantara semak-semak dedaunan ada seekor ulat nemplok. Saya ambil pake ranting dan saya bergegas mendekati Genong.
Beberapa panitia yang di belakang siswa sebagian tau kalau Genong takut sama Ular mulai mesam mesem melihat keisengan saya bergegas ke dekat genong. Dengan langkah mantap saya mendekati genong menjejerinya seraya berkata "Komandan apa kabar?" kata saya sambil mengacungkan ulat ke dia.
Begitu melihat ulat didekatnya kontan mimik mukanya terbelalak ketakutan, pucat dan langsung berlari ke depan pasukan. Ia tak peduli kalau disebelahnya siswa lagi mengaguminya. Dengan wajah ketakutan ia berlari kencang ke depan tanpa memedulikan imagenya sebagai DanOps mendekati seksi long march sambil memandang ke saya dengan wajah masam hi.....
Sebaliknya genong. Ular baginya hanyalah sebuah permainan. Jangankan melihat ia bahkan sanggup mengendus keberadaan ular dari jarak 50 meter. Akan keahliannya ia pernah memaparkan, ketika semasa kecil ia sudah diperkenalkan dengan urusan ular. Temen-temen sedesanya hobinya menagkap ular dan menjualnya di kota.
Makanya ketika mahasiswa keahliannya menangkap ular benar-benar bisa menjadikannya salah satu instruktur survival yang handal. Bahkan mungkin hingga saat ini belum ada yang menyamai keahliannya menangkap ular.
Di setiap kegiatan kita selalu merayu genong untuk mencari ular untuk sekadar menambah lauk makanan menjadi lebih gurih. Dengan senang hati ia selalu berkata " arep sing berbisa apa siang ora" katanya sambil ngeloyor pergi.
Biasanya tak lama dia sudah menenteng minimal 1 ekor ular dan mengulitinya. Sedangkan yang lain terima bersih tinggal memasaknya.
Bahkan suatu waktu karena dia ingin menurunkan ilmu ularnya maka ia pelihara beberapa ular di sekretariat dan bahkan ular cobra. Untuk yang tidak berbisa biasanya malah ia lepas di sekre. Jadi sering terjadi teriakan kaget beberapa anggota UPL ketika mendapati ular sawah yang juga ngadem di sekre.
Namun sedikit orang yang tau bahwa Genong sangat penakut sama ulat, apa saja jenis ulatnya. Dan ketakutan pada ulat itu tidak maen-maen seperti kebanyakan orang yang takut sama ular ia akan ambil langkah seribu.
Suatu waktu saat ia menjabat sebagai Komandan Operasi pada sebuah Pendidikan Dasar, sebuah jabatan bergengsi saat itu. Ketika Long March saat Komandan Operasi lewat biasanya para siswa berdecak kagum dengan sosok pengendali operasi "ngerjain calong anggota".
Atas kegagahannya menjadi seorang DanOps timbullah keisengan saya melihatnya berjalan mendamping sisiwa. Kebetulan diantara semak-semak dedaunan ada seekor ulat nemplok. Saya ambil pake ranting dan saya bergegas mendekati Genong.
Beberapa panitia yang di belakang siswa sebagian tau kalau Genong takut sama Ular mulai mesam mesem melihat keisengan saya bergegas ke dekat genong. Dengan langkah mantap saya mendekati genong menjejerinya seraya berkata "Komandan apa kabar?" kata saya sambil mengacungkan ulat ke dia.
Begitu melihat ulat didekatnya kontan mimik mukanya terbelalak ketakutan, pucat dan langsung berlari ke depan pasukan. Ia tak peduli kalau disebelahnya siswa lagi mengaguminya. Dengan wajah ketakutan ia berlari kencang ke depan tanpa memedulikan imagenya sebagai DanOps mendekati seksi long march sambil memandang ke saya dengan wajah masam hi.....
Minggu, 09 November 2008
Mencoba Jadi Orang Kebal Api
Ketika di akhir kegiatan penelitian Mustika Pratiwi "Ika Merdeka" di vegetasi Samyang Rangkah, G Slamet Budi "Buna" Mulyana punya ide untuk melakukan latihan jungle survival di ketinggian lebih dari 2.500 m dpl. Saya lupa tahun berapa tapi antara tahun 1991-1992.
Kontan aja acara ini menarik minat para anggota yang masih bau kencur termasuk didalamnya Genong. Tak ayal lagi pondok penelitian yang kita namakan Segung menjadi seperti perkampungan. Maklum lebih dari 15 anggota yang masih muda termasuk anggota muda ikut serta di dalamnya.
Malam hari kita selalu ngumpul di depan 2 tenda besar, sembari mendengarkan ceramah dari sang kakak yang ahli mountaineering, siapa lagi kalau bukan Buna. Karena malam sudah mulai larut dan mata sudah sulit dibuka, satu persatu penduduk suku segung masuk ke tenda dan masuk ke kantung tidur.
Namun waktu itu Genong nampaknya belum bisa memejamkan mata. Waktu saya coba temani sambil menyalakan lilin karena perapian sudah dimatikan. Namun tak berapa lama kantuk tak bisa ditahan kendati rokok dan kopi panas buatan genong sudah habis terminum. Maklum siangnya kita harus membantu Ika Merdeka untuk melakukan penelitian.
Sebelum tidur saya ingatkan Genong yang masih duduk menikmati malam untuk mematikan lilin. Sambil berbaring Genong nampaknya masih menikmati indahnya malam di lembah Segung. Selintas ketika saya masuk ke kantung tidur Genong berada di pintu tenda sembari berbaring sambil masih menghisap rokoknya dalam-dalam.
Tak lama kemudian saya sudah berlayar ke pulau kapuk bersama teman-teman lainnya nikmat sekali malam itu. Entah sudah berapa lama saya tertidur tiba-tiba saya bermimpi kalau perkampungan Segung menjadi terang benderang, sambil membayangkan ada listrik disitu.
Ternyata terang benderang itu bukan mimpi melainkan api yang tengah membesar dari matras dekat Genong yang tengah terlelap di dekatnya. Masih setengah sadar saya bangunkan anak-anak karena saya berada di ujuang sebrang tenda.
Gegerlah seisi perkampungan sambil bingung cari cara untuk memadamkan api yang sudah mulai menjilat pintu tenda. Saya lupa disebelahnya genong dengan kepanikan langsung menyambar nesting yang didekatnya dan disiramkan ke tenda yang mulai terbakar. Api yang menyambar tendapun mati. Lama kemudian kita baru tau ternyata yang didalam nesting bukanlah air melainkan sop yang sengaja dibuat untuk makan pagi, nah lo.
Namun sumber api yang berasal dari matras belum padam dan masih menjilat-jilat. Ditengah kepanikan tiba-tiba Genong bangun dan dengan kepercayaan diri yang tinggi api yang membakar matras ditepuk dengan menggunakan tangan kosong. Sekali tepuk apipun mati.
Kita yang mengenal Genong sosok yang sakti karena sering berkomunikasi dengan mahluk gaib menganggapnya tengah mengeluarkan ilmu saktinya kebal api. Namun tiba-tiba Genong meraung-raung kepanasan sambil memegangi tangannya.
Ternyata Genong bukan mengeluarkan jurus saktinya kebal api namun karena bangun dan belum 100 persen bangun melihat ada api praktis aja dengan tangan kosong ia tepuk api yang sudah membesar.
Alhasilnya sebagian jarinya melepuh terkena leleran matras yang mencair dan itu menjadi kenang-kenangan.
Kontan aja acara ini menarik minat para anggota yang masih bau kencur termasuk didalamnya Genong. Tak ayal lagi pondok penelitian yang kita namakan Segung menjadi seperti perkampungan. Maklum lebih dari 15 anggota yang masih muda termasuk anggota muda ikut serta di dalamnya.
Malam hari kita selalu ngumpul di depan 2 tenda besar, sembari mendengarkan ceramah dari sang kakak yang ahli mountaineering, siapa lagi kalau bukan Buna. Karena malam sudah mulai larut dan mata sudah sulit dibuka, satu persatu penduduk suku segung masuk ke tenda dan masuk ke kantung tidur.
Namun waktu itu Genong nampaknya belum bisa memejamkan mata. Waktu saya coba temani sambil menyalakan lilin karena perapian sudah dimatikan. Namun tak berapa lama kantuk tak bisa ditahan kendati rokok dan kopi panas buatan genong sudah habis terminum. Maklum siangnya kita harus membantu Ika Merdeka untuk melakukan penelitian.
Sebelum tidur saya ingatkan Genong yang masih duduk menikmati malam untuk mematikan lilin. Sambil berbaring Genong nampaknya masih menikmati indahnya malam di lembah Segung. Selintas ketika saya masuk ke kantung tidur Genong berada di pintu tenda sembari berbaring sambil masih menghisap rokoknya dalam-dalam.
Tak lama kemudian saya sudah berlayar ke pulau kapuk bersama teman-teman lainnya nikmat sekali malam itu. Entah sudah berapa lama saya tertidur tiba-tiba saya bermimpi kalau perkampungan Segung menjadi terang benderang, sambil membayangkan ada listrik disitu.
Ternyata terang benderang itu bukan mimpi melainkan api yang tengah membesar dari matras dekat Genong yang tengah terlelap di dekatnya. Masih setengah sadar saya bangunkan anak-anak karena saya berada di ujuang sebrang tenda.
Gegerlah seisi perkampungan sambil bingung cari cara untuk memadamkan api yang sudah mulai menjilat pintu tenda. Saya lupa disebelahnya genong dengan kepanikan langsung menyambar nesting yang didekatnya dan disiramkan ke tenda yang mulai terbakar. Api yang menyambar tendapun mati. Lama kemudian kita baru tau ternyata yang didalam nesting bukanlah air melainkan sop yang sengaja dibuat untuk makan pagi, nah lo.
Namun sumber api yang berasal dari matras belum padam dan masih menjilat-jilat. Ditengah kepanikan tiba-tiba Genong bangun dan dengan kepercayaan diri yang tinggi api yang membakar matras ditepuk dengan menggunakan tangan kosong. Sekali tepuk apipun mati.
Kita yang mengenal Genong sosok yang sakti karena sering berkomunikasi dengan mahluk gaib menganggapnya tengah mengeluarkan ilmu saktinya kebal api. Namun tiba-tiba Genong meraung-raung kepanasan sambil memegangi tangannya.
Ternyata Genong bukan mengeluarkan jurus saktinya kebal api namun karena bangun dan belum 100 persen bangun melihat ada api praktis aja dengan tangan kosong ia tepuk api yang sudah membesar.
Alhasilnya sebagian jarinya melepuh terkena leleran matras yang mencair dan itu menjadi kenang-kenangan.
Semangatmu Tak Pernah Padam
Blog ini aku dedikasikan pada salah satu sahabat terbaikku Marsudiana "genong". Leukemia memang telah menghentikan napasmu dalam pengarungan hidup ini. Tapi semangatmu untuk berjuang melawan leukemia membuat aku kagum.
Bagi rekan-rekan yang punya pengalaman atau sempat pnya kenangan baik manis pahit getir tawa tangis sedih duka senang semuanya, tuangkanlah disini.
Bagi rekan-rekan yang punya pengalaman atau sempat pnya kenangan baik manis pahit getir tawa tangis sedih duka senang semuanya, tuangkanlah disini.
Langganan:
Postingan (Atom)
